Wednesday, November 30, 2011

Peluang Bisnis Terkait Teknologi Lingkungan Tepat Guna


SEMAKIN KETATNYA PERSAINGAN DI DUNIA PEKERJAAN MENJADI LEBIH NYATA DALAM DEKADE AKHIR-AKHIR INI MENGHARUSKAN KITA UNTUK BERPIKIR LEBIH KREATIF DALAM MENJALANI HIDUP INI, HEHE .. YA TIDAK LAIN DAN TIDAK BUKAN SELAIN KEMBANGKAN POTENSI INOVATIF DAN KREATIF YANG ADA DALAM DIRI SETIAP KITA CONFESS TO BUSSINESS, BERALIH KE DUNIA BISNIS TAPI DENGAN PRINSIP LOOK AT FUTURE, KITA HARUS LIHAT KANDISI LINGKUNGAN KITA JANGAN SAMPAI HANYA KARNA KEBUTUHAN KITA LINGKUNGAN JADI TERABAIKAN. KONDISI SEKARANG SEMUANYA HARUS SEIMBANG PEMENUHAN KEBUTUHAN MASA KINI TETAP TERPENUHI TETAPI DENGAN PERTIMBANGAN KEBUTUHAN MASA YANG AKAN DATANG TIDAK DIKORBANKAN. WEITTTZZ JADI KEBANYAKAN UNGKAPKAN ISI HATI, HEHE.. MAKLUM IDEALIS TERHADAP KONDISI LINGKUNGAN SEKARANG INI. LANGSUNG AJA KITA SIMAK BISNIS YANG RAMAH LINGKUNGAN YANG MEMENUHI TUNTUTAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN (SUSTAINABLE DEVELOPMENT).  

POTENSI KHUSUS BISNIS PENYEDIAAN ENERGI ALTERNATIF
BIO BRIKET
  

  Peluang Komersial
               Produk briket terbuat dari arang dari cangkang kelapa sawit dan serbuk gergaji yang dengan kualitas bagus. Dalam proses pembuatannya tidak menggunakan bahan pengawet, zat pewarna serta zat kimia lainnya. Peluang pemasaran yang didapat sangat besar karena briket pada pembakarannya di jelaskan oleh nara sumber mampu bertahan selama 6 jam dan merupakan pembakaran sempurna sehingga tidak menghasilkan zat-zat berbahaya dan resikonya juga amat kecil.
  
Peluang Patent atau Hakiki
   Briket  merupakan bahan bakar yang berbahan dasar cangkang kelapa sawit atau apa saja yang mengandung carbon. Dikemas dalam bentuk yang lebih baik sehingga lebih awet dan menarik digunakan pelanggan sebagai bahan bakar utama keluarga, dan aman dipraktekkan siapa saja karena tidak memiliki potensi bahaya yang mengkhawatirkan karena bukan terdiri dari senyawa volatile dan senyawa-senyawa yang mudah meledak.

 Peluang Legalitas
Peluang legalitas usaha briket ini sangat besar karena dalam proses produksi mengggunakan alat berupa mesin yang sederhana dan tidak memiliki dampak terhadap lingkungan, karena mesin yang digunakan adalah mesin penghalus arang yang diputar manual, mesin percetakan briket dan oven. Selain itu, dalam proses pengemasan hingga pengepakan dilakukan dengan keadaan yang baik serta telah memenuhi syarat higienis dan bebas dari bahan berbahaya.
  
  Sumber Daya yang Ada
1.      Sumber Daya
§ Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia yang ada pada produksi briket ini terdiri dari 10 orang:
-    1 orang bagian keuangan
-    5 orang bagian produksi
-    2 orang bagian pengangkutan
-    2 orang sebagai koordinasi pemasaran

§ Sumber Daya Alam
-    Cangkang kelapa sawit, batok kelapa, serbuk gergaji, sekam, ranting-ranting kayu yang belum dimanfaatkan,dll

2.      Kondisi Management
Usaha Briket ini adalah suatu usaha rumahan. Industri ini tergolong usaha kecil menengah. Kondisi management yang dimiliki harus sangat baik dari segi pengaturan keuangan, pemasokan bahan baku sampai proses pemasaran telah ditangani dengan baik.
Industri kecil ini terdiri dari pemilik usaha yang berfungsi sebagai pengawas, bendahara yang mengatur keuangan dan karyawan-karyawan lainnya yang bekerja dalam produksi briket, pengemasan, pengepakan hingga pemasarannya.

3.      Kondisi Produksi
Kondisi produksi briket saat ini mengalami kendala yaitu terlalu manjanya masyarakat dengan kondisi yang sudah ada, contohnya merasa sudah sangat puas telah menggunakan kompor gas tetapi tidak mau tahu terhadap kondisi persediaannya sehingga sejalan dengan pertumbuhan penduduk yang semakin  pesat maka ekploitasi terhadap Sumber Daya Alam fosil Semakin besar pula dan pada suatu saat Sumber Daya Alam tersebut akan habis. Oleh karena itu dilakuakan inovasi dari sekarang dengan pengembangan energy alternative agar masyarakat tidak kebingungan saat persediaan bahan bakar fosil habis, untuk memberikan pemahaman yang lebih kepada masyarakat akan hal tersebut perlu dilakukan sosialisasi kepada setiap lapisan masyarakat

4.      Kondisi dan Lingkup Pemasaran Produk
Kondisi pemasaran Briket ini sudah cukup baik jika masyarakat telah memahami alasan mengapa harus lebih cenderung ke energi alternatif yang tentunya diperkuat dengan pendekatan terlebih dahulu kepada setiap lapisan masyarakat.

Lubang Resapan Biopori

                TEKNIK PEMBUATAN
Pembuatan LRB tergolong mudah dan dapat diaplikasikan dari skala rumah tangga hingga skala lebih luas. Pada berbagai macam permukaan tanah pun bisa dibuat LRB, mulai dari permukaan tanah hingga permukaan beton atau lapisan adukan semen. Peralatan yang dibutuhkan pun relatif sederhana dengan teknologi yang sederhana pula. Selain itu, membuat LRB juga tidak membutuhkan waktu lama dan biaya besar.
 
A.                Alat dan Bahan
Lubang resapan Biopori merupakan teknologi sederhana dengan segudang manfaat. Dengan peralatan dan bahan yang digunakan untuk membuat LRB yang sederhana dan mudah di dapat, diharapkan setiap rumah tangga dapat mewujudkan kepedulian untuk memanfaatkan air hujan dan sampah organik guna memperbaiki kondisi lingkungan terdekatnya masing-masing.

1.                  Alat   

Beberapa peralatan yang digunakan untuk membuat lubang resapan biopori yaitu bor tanah, cangkul, kape, golok, palu, pahat, ember, gayung, bambu, pengki, pipa PVC, kertas, koran, dan sendol semen. Bor berfungsi untuk melubangi sebidang tanah, sekaligus mengangkat tanah hasil galiannya. Bor juga dapat digunakn untuk memanen kompos hasil pelapukan sampah organik di dalam LRB. Bor tanah terbuat dari besi dengan desain khusus. Bahan besi dipilih karena alasan awat dan kuat. Disepanjang bor terdapat alat ukur, berupa angka satuan dalam bentuk cm untuk mengetahui kedalaman lubang ketika bor digunakan. Mata bor dibuat dari lempengan besi tipis yang berbentuk oval yang meruncing pada bagian ujungnya. Dengan desain seperti ini, mata mampu menembus tanah yang keras sekalipun. Panjang bor sekitar 120 cm. sementara bagian pangkal bor dibuat dua pegangan, kanan dan kiri sehingga memudahkan dalam penggunaan. Bor dapat dibeli untuk dimiliki secara bersama oleh beberapa orang sehingga ongkos pembelian dan pemeliharaan dapat dilakukan bersama serta alat dapat dimanfaatkan lebih efektif.
Cangkul dan kape digunakan untuk membersihkan permukaan tanah dari rerumputan yang tumbuh. Cangkul yang digunakan sebaiknya yang tajam dan ringan, tetapi kuat. Golok digunakan untuk membuat lubang permulaan sebelum menggunakan bor tanah. Pahat dan palu digunakan untuk membongkar lapisan semen pada saluran air atau permukaan tanah yang disemen. Ember dan gayung digunakan untuk menampung dan menuangkan air dalam lubang sehingga memudahkan dalam pembuatan lubang. Bambu didesain khusus dengan bagian ujung dilancipkan digunakan untuk mengeluarkan tanah dari mata bor ketika membuat LRB. Pengki digunakan untuk menampung tahah hasil galian LRB sehingga tidak mengotori daerah sekitar. Potongan pipa PVC diameter 4 inci digunakan untuk cetakan membuat penguat mulut lubang sehingga tampak rapi dan tanah tidak mudah masuk. Kertas koran digunakan untuk membuat bungkus pipa PVC saat membuat penguat mulut lubang LRB. Sendok semen digunakan untuk meletakkan adukan semen untuk penguat mulut lubang LRB.

2.                  Bahan  
Bahan yang perlu disiapkan ketika membuat lubang LRB yaitu semen, pasir, batu hias/pecahan keramik, air, dan sampah organik. Semen dan pasir digunakan untuk memperhalus permukaan lubang. Batu hias/pecahan keramik biasanya berbentuk bulat tak beraturan dengan pilihan warna sesuai selera dan kreasi masing-masing. Batu hias ini digunakan untuk mempercantik hasil akhir adukan semen. Air digunakan untuk melunakkan tanah tempat dibuatnya LRB. Sementara sampah organik digunakan sebagai bahan pengisinya. Sampah organik merupakan sampah yang berasal dari makhluk hidup, seperti pangkasan rumput dari halaman, daun-daun yang berguguran, ranting kecil, kertas bekas, potongan kardus, sisa sayuran, sisa makanan, dan kulit buah. Sampah organik tersebut berfungsi sebagai pakan dari organisme tanah sehingga dapat bekerja membuat biopori. Sebelum sampah organik melapuk ia berfungsi untuk menjaga dinding saluran tidak longsor dan mencegah pori dalam tanah tersembat oleh sedimen yang tertampung. Hasil pelapukan nantinya dapat dimanfaatkan sebagai kompos. 

B.                 Jumlah LRB Yang Ideal
LRB merupakan teknologi sederhana untuk meresapkan air hujan, sekaligus mempercepat pelapukan sampah organik. Agar lebih efektif dalam meresapkan air hujan dan jika dirasa sampah organik yang dihasilkan cukup banyak, perlu dibuat LRB lebih dari satu. Untungnya, teknologi ini mudah dan murah dalam proses pembuatannya. Dengan demikian, jika jumlah LRB lebih dari satu tidak akam memberatkan pembuatnya.
Jumlah LRB yang akan dibuat sebaiknya disesuaikan dengan luas tanah yang ada, berupa halaman depan atau halaman belakang. Jumlah LRB pada setiap luasan lahan bisa dihitung berdasarkan rumus berikut.


 Sebagai contoh, suatu daerah memiliki intensitas hujan 50 mm/jam, bisa dikategorikan sebagai hujan lebat. Kemudian, di daerah tersebut akan dibuat LRB pada luas sebidang kedap 100 m2. Sementara laju peresapan air per lubang di daerah tersebut 3 liter/menit atau 180 liter/jam. Dengan demikian, jumlah LRB yang perlu dibuat adalah sebagai berikut.


                        

Lubang berdiameter 10 cm dengan kedalaman 100 cm dapat menampung sekitar 7,8 liter sampah organik. Dengan volume tersebut setiap lubang dapat diisi dengan sampah organik selama 2 – 3 hari. Dengan demikian, 28 lubang yang tersedia baru dapat dipenuhi dengan sampah organik setelah 56 – 84 hari. Dalam selang waktu tersebut, lubang-lubang yang diisi diawal sudah akan terdekomposisi menjadi  kompos sehingga volumenya telah menyusut. Dengan demikian, lubang-lubang ini sudah dapat diisi kembali dengan sampah organik yang baru dan begitu seterusnya.

C.                Membuat LRB
Lubang resapan biopori dapat dibuat di saluran air yang seluruhnya tertutup semen ataupun dihalaman rumah jika menggunakan bor sebagai alat pelubang, bukan alat lain. Pada saluran air, perlu dibuat bendungan diujung saluran agar tidak mengalir ke lokasi yang lebih rendah, melainkan diserap sebanyak-banyaknya ke dalam lubang.
Pentingnya diameter lubang dibuat kecil (10 cm) juga bertujuan untuk menghindari masuknya hewan yang cukup besar, seperti tikus. Pada lubang sekecil itu, tikus harus mundur untuk keluar karena tidak dapat membelokkan tubuhnya, tetapi disamping itu sampah perkotaan berupa seperti pecahan kulit durian masih dapat diamasukkan.
Agar terlihat rapi, mulut lubang bisa diperkuat. Penutup bisa berupa sambungan besi atau PVC berlubang. Sementara penguat bibir permukaan LRB bisa berupa adukan semen dan pasir/kerikil, serta sepotang pipa PVC diameter 4 inci.
Tidak perlu kuatir, sampah organik yang berada di dalam lubang akan meluap karena air akan tercepat terserap berkat adanya biopori. Air yang masuk ke dalam lubang membantu mempercepat proses pelapukan karena air cepat meresap dan menciptakan kondisi aerobik (cukup oksigen) dan mencegah timbulnya bau busuk. Oksigen diperlukan oleh organisme tanah untuk bertahan hidup. Pada LRB berkedalaman kurang dari 100 cm, ketersediaan oksigen masih cukup sehingga organisme tanah dapat bekerja dengan baik untuk membuat biopori.

Adapun tahapan untuk membuat LRB adalah sebagai berikut :
1.      Siapkan peralatan untuk membuat lubang, seperti bor, golok, semen, kawat jaring, sampah organik, wadah untuk tanah, serta gayung dan seember air.
2.      Tentukan lokasi pembuatan lubang resapan biopori, misalnya disekeliling pohon.
3.      Jika pembuatan LRB dilakukan disaluran air, hancurkan dulu lapisan semen menggunakan pahat dan martil.
4.      Siram dengan segayung air bagian tanah yang akan dibor. Penyiraman tanah perlu dilakukan supaya tanah menjadi lunak dan tidak melekat pada saat melakukan pemboran. Penyiraman dihentikan ketika tanah menjadi basah.
5.      Mulailah membuat lubang menggunakan bor. Posisikan mata bor pada permukaan tanah. Tegakkan tangkai bor secara vertikal.
6.      Putar setang bor ke arah kanan  (searah jarum jam) sambil menekan bor kedalam tanah.
7.      Setelah bor masuk sedalam 20 cm atau setelah mata bor terlihat penuh dengan tanah, tarik keluar dengan sedikit memutar tetap searah jarum jam. Tujuannya agar tanah yang berada didinding lubang tidak melekat pada mata bor.
8.      Keluarkan tanah dari mata bor dengan menggunakan pisau, sepotong kayu/bambu atau sendok semen sehingga bersih dari tanah. Kumpulkan galian dipengki sehingga memudahkan dalam pembuangan/penanganan.
9.      Lanjutkan kembali pemboran. Setiap kali mata bor penuh terisi tanah atau setiap kali bor menembus 10 cm, angkat kembali bor. Bersihkan mata bor dari tanah dengan menggunakan golok atau belati/sangkur. Jika tanah mulai mengeras, tambahkan air lagi menggunakan gayung. Begitu seterusnya hingga mencapai kedalaman yang diinginkan , yaitu 100 cm atau kurang bila permukaan air bawah tanahnya lebih dangkal dari 100 cm.
10.  Bila mata bor menyentuh bebatuan, jangan dipaksakan. Hentikan pengeboran. Angkat kembali bor dan biarkan lubang tersebut. Meskipun dasarnya batu, tetapi lubang tersebut juga bisa dimanfaatkan untuk tempat memasukkan sampah organik dan meresapkan air ke dalam tanah.
11.  Angkut tanah galian dalam pengki ke tempat lain agar tidak mengotori lokasi pemboran.
12.  Perkuat mulut lubang dengan lubang semen dan pasir berukuran lebar 2 – 3 cm dan tebal 2 cm di sekeliling mulut lubang. Aduk semen, pasir, dan air dengan formula yang pas.
13.  Bungkus potongan pipa PVC dengan koran bekas. Tujuanya supaya adukan semen tidak melekat pada pipa PVC sehingga memudahkan pencabutan meskipun adukan semen belum mengering.
14.  Lipat ujung koran ke dalam pipa PVC sehingga menyatu dengan pipa PVC-nya.
15.  Masukkan potongan pipa PVC yang telah dibungkus koran pada mulut LRB sedalam 2 cm. bila perlu, perlebar bagian atas lubang terlebih dahulu sekitar 2 – 3  cm sebagai tempat bertambatnya adukan.
16.  Setelah pipa tepat diposisinya, disisipkan adukan semen dan pasir disekeliling pipa.
17.  Tambah hiasan pada permukaan adukan semen, bisa berupa batu  hias, bisa berupa batu alam atau pecahan keramik.
18.  Tekan batu hias tersebut hingga merekat kencang pada adukan semen menggunakan pangkal sendok adukan.
19.  Bila penguat bibir lubang sudah agak mengeras, cabut pipa PVC dari tempatnya. Pipa PVC ini bisa digunakan untuk mencetak penguat pada LRB yang lain.
20.  Biarkan adukan hingga kering. Pastikan permukaan adukan tidak lebih tingga dari dasar alur  sehingga air dapat masuk ke dalam LRB.     
21.  Setelah benar-benar kering, dorong kertas korannya ke dalam lubang menggunaan jari-jari tangan.
22.  Setelah lubang LRB siap, masukkan sampah organik ke dalam lubang sampai penuh. Bila jumlah terbatas, sampah organik cukup disumbatkan sampai permukaan mulut lubang sehingga tanah tidak dapat masuk ke dalam lubang. Sampah berikutnya dengan mudah ditambahkan sambil mendorong sampah sebelumnya masuk lebih dalam.
23.  Untuk memasukkan sampah lebih dalam, bisa dengan cara mendorong dengan menggunakan bambu atau tongkat yang tumpul. Pengisian sampah jangan terlalu padat agar tidak mengurangi jumlah oksigen di dalam tanah. Bila sampah organik belum tersedia dalam jumlah yang memadai untuk memenuhi lubang, cukup gunakan sampah tersebut untuk menyumbat mulut lubang. Tujuannya untuk mencegah tanah permukaan masuk lubang.
24.  Agar LRB tidak membahayakan bagi yang lalu lalang, tutup lubang dengan besi beton atau alat penutup lain. Alat penutup harus bisa dilalui air dan cukup kuat menahan beban jika terinjak.

D.                Biaya yang Diperlukan
LRB adalah teknologi  yang sederhana yang tidak memerlukan banyak alat. Bahan pengisinya pun hanya memanfaatkan sampah organik yang dapat diperoleh dari lingkungan sekitar tanpa perlu mengeluarkan biaya. Untuk keperluan alat bor, dapat dibeli seharga Rp. 175.000 – Rp. 250.000. Biaya untuk membeli bor ini dapat ditekan bila 1 bor dimiliki bersama oleh beberapa orang.

E.                 Waktu yang Dibutuhkan
LRB bisa dibuat oleh berbagai kalangan umur, baik oleh lelaki maupun perempuan. Rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk membuat satu lubang biopori sekitar 8 – 15 menit. Waktu yang dibutuhkan untuk membuat lubang resapan biopori tergantung janis tanah, jenis bor yang dipakai, dan faktor pelaku (laki-laki atau perempuan, asumsinya laki-laki lebih cepat dibandingkan perempuan).
Jika satu rumah tangga perlu membuat 30 LRB maka semua lubang akan selesai dalam waktu 240 menit (4 – 8 jam). Dengan kata lain, seseorang memerlukan waktu kurang dari satu hari untuk membuat 30 lubang. Dengan meluangkan waktu satu hari saja untuk membuat LRB, kita sudah dapat membantu kelestarian lingkungan.   

PALING GANTENG _Perspektif Didiq_

Mungkin kisah ini hanya sebuah narasi klasik dari kehidupan nyata sehari2 yg bisa terjadi di manapun dan kapanpun, yang mungkin terliha...