Monday, March 4, 2019

LINTASAN KELAM




Aku suka travelling biar aku merasakan
kerinduan pada suasana dirumah.
(Based 0n True Story)

Satu jam beranjak  ke arah timur dari kota Pontianak dengan tunggangan kuda besi bersama seorang sahabat, akhirnya kamipun tiba di 00 garis khatulistiwa, dan berpose di tugunya dengan gaya seadanya mengingatkan sehebat apapun kami berpose tak akan ditunjang fasilitas kamera satu-satunya yang masih bernyawa baterainya, handphone seluler jadul milikku. Setelah itu kami segera memilih untuk mengasokan diri pos jaga disekitar lokasi tugu. Dua botol air mineral, rokok dan beberapa camilan sahabatku keluarkan dari tasnya. Dan mulailah bercerita dengan pengantar yang tak kenal konteks, tak kenal latar belakang apalagi tujuan.
Bukankah hidup bebas lepas itu indah..??
 Sampai satu celetukkan dariku membuat suasana jadi sedikit berbeda. Berapa lama kau tidak bertemu orang tuamu kawan..??  sebagai seorang sahabat aku tahu kalau dia mengalami kerenggangan hubungan dengan kedua orang tuanya, sejak kedua orang tuanya sepakat untuk bercerai. Kawan aku senang menghabiskan waktu tersenyum bersamamu, tapi aku akan bahagia jika senyumanmu bukan dari bayangan “aku kembali berujar”. Haha.. malah dia tertawa, dan menatap kembali Tugu kathulistiwa yang berjarak  50’an meter dari pos tempat kami bercerita, kau tahu sobat ‘apa yang membuat penemuan dari Josh Papernash begitu sukses dan mampu mematahkan teori Adam Smith dan sekarang menjadi sangat berpengaruh bagi pasar eropa dan dunia. Haha..(getir) aku gantian tertawa, aku pernah baca bukunya kawan Beautiful Mind” tapi versi bahasa ing****, Sudah ..!!! potongnya tegas... aku gak tanya kamu pernah baca atau tidak tapi kenapa Papernash begitu sukses. Baiklah jelaskan ‘kataku’.
Kau tahu alasan dibalik peraih nobel ekonomi modern sekaligus menyandang gelar bapak ekonomi tersebut dibalik penemuannya. Dalam bukunya dia menulis dibalik semua yang ia kerjakan itu adalah caranya mengungkapkan rasa sayang kepada orang yang ia sayanginya, yakni istrinya tercinta “Allice bahkan dalam pidatonya saat meraih nobel ia mengatakan “aku berdiri disini karena Allice”.
Suasana jadi hening sejenak dan tatapannya beralih padaku. Kawan... kedua orang tuaku tak menemukan lagi alasan untuk mengungkapkan rasa sayang mereka satu sama lain. Bukan perbedaan yang memisahkan mereka, karena sejak awal mereka dipertemukan dan menikah karena banyak kesamaan. Mereka hanya tidak menemukan lagi alasan untuk mengungkapkan rasa sayang satu sama lain, dan untuk pertanyaanmu tadi aku juga belum dan masih mencari alasan untuk rindu pada mereka, ya... pada orang tuaku, pada rumah.


                                                  ************  
Haruskah segala dilakukan sesuatu dengan alasan ..??
Bukan cinta dan kasih sayang yang menciptakan alasan
Atau Sebaliknya ..??

Suasana hening sesaat... akupun tak mau berkomentar apa-apa... suasana hati sahabatku masih bergejolak sesuai rona wajahnya yang terbaca sedang menyimpan keresahan meski ia tetap tersenyum. Meski dalam diam aku berusaha memahami apa yang paling ia butuhkan yang akhirnya sekelumit pemahamanku aku tuangkan dalam novel yang terukir bagi sahabat (senyuman dalam bayangan).
Ehh.. kawan..!!
Keheningan terpecahkan saat sahabatku tertawa dan balik bertanya... kamu sendiri bagaimana bukankah hampir setahun kamu tidak pernah pulang kampung. Haha... aku tertawa lepas sambil mengisap rokok dan segera mengepulkan asapnya ke langit-langit pos jaga. Kamu salah kawan bukannya hampir lagi tapi setahun lebih sudah, karena sejak awal 2009 hingga sekarang 2010 akhir aku belum sempat sama sekali untuk pulang kampung bertemu untuk orang tuaku dan keluarga. Laboratorium, Mini Research bersama teman-teman sylvikultur, Organisasi, LSM, dan traveling seperti ini tak memberi kesempatan bagiku untuk melihat mereka disana. Lagian inilah saatnya anak manja menjadi mandiri kawan... mendengar itu dia langsung berujar tidak usah diceritakan kawan !!! sambil tersenyum geli aku sudah tahu “katanya”. Innocent. Sebagai sahabat dia juga tahu bagaimana sebenarnya masa laluku.
Perbedaan yang membuat aku begitu merindukan mereka...
                                                                                                                ************
Dengar kawan..!! kataku sedikit tegas, bagiku ini yang terpenting untuk kamu tahu. “aku sangat merindukan mereka, dan mungkin ini terdengar berlebihan akupun sering menangis membayangkan ibu dan ayahku disana. Aku suka traveling karena dengan begitu aku semakin merasakan suasana rindu kepada rumahku.   
Perbedaan justru menjadikan alasan aku sangat merindukan mereka, perbedaan kami menjadi warna bagi keluarga kami.
Tak satupun dari kami punya daya ingat seperti adikku, dia bisa mengingat persis apa yang pernah kita ajarkan padanya.
Di rumah, kakakku masih seorang yang paling berlogika dan tak satupun kami bisa menandinginya.
Manusia paling optimis yang pernah aku kenal sejauh ini itu adalah ayahku sendiri meski kemampuannya jauh dari rasa yakinnya tapi beliau bukan orang peduli soal itu. Dalam impiannya membangun rumah walet ayah begitu yakin bahwa ia mampu membangunnya sendiri. Meski sampai aku menulis tulisan ini belum satu pondasipun terpasang tapi sikap optimisnya sedikitpun tidak berkurang, pernah suatu ketika kawan lamanya mengobservasi lahan kami dan begitu tergiur untuk bekerja sama dengannya membangun sarang walet dan siap menyuplai dana. Ayah menolak dengan santai “tidak pak saya akan membangunnya sendiri.
Yang terakhir sang ibu, jika jauh darinya maka anak-anaknya akan siap-siap ditelponnya minimal satu kali sehari, mungkin hanya untuk menanyakan kabar keberadaan dan mengingatkan soal makan. Dan goresan luka kecil bisa membuatnya masakannya hangus terbakar karena ditinggalkannya untuk segera merawat luka anak-anaknya. Dan satu lagi berlebihan jika didengar tapi inilah kenyataannya, batuk pilek ringan anak-anaknya bisa membuat tidak bisa tenang seharian, untuk mencari ramuan, obat-obatan dan apapun itu. Ibuku, bagiku manusia paling peduli yang pernah aku kenal, jauh darinya membuatku jadi pria paling cengeng, apalagi saat sedang sakit. Aku selalu berurai air mata merindukan perawatan-perawatan ekstranya, dan pertanyaannya. Mau makan apa nak ..??
                                                     ************
Butuh satu buku dengan ratusan bahkan ribuan halaman untuk mengisahkan warna perbedaan dalam keluargaku yang telah terbias menjadi refleksi pelangi. Begitu indah.

Sekali lagi kawan kataku pada sahabatku “aku begitu merindukan mereka semua apalagi ayah dan ibu”. Alasan satu tahun lebih ini tercapai karena kerinduanku pada mereka. Jadi bagiku kawan “kerinduan dan rasa sayang yang menciptakan alasan bukan sebaliknya”.

No comments:

Post a Comment

PALING GANTENG _Perspektif Didiq_

Mungkin kisah ini hanya sebuah narasi klasik dari kehidupan nyata sehari2 yg bisa terjadi di manapun dan kapanpun, yang mungkin terliha...